Kamis, 07 Januari 2016



MAKALAH ALIRAN ASY'ARIAH
KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah, taufik, dan inayahnya kepada kita semua. Sehingga kami bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridhonya. Syukur Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan rencana. Makalah ini kami beri judul “Aliran Asy’ariyah” dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Pelajaran Ilmu Kalam.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat yang mampu memberikan syafa’at kelak di hari kiamat.
Selanjutnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Ahmad Furqon, selaku guru pengajar Mata Pelajaran Ilmu Kalam, yang telah membimbing kami.Dan kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini hingga selesai.
Saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan didalamnya.
            Saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi tercapainya kesempurnaan makalah selanjutnya.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis umumnya dan khususnya bagi pembaca.

Sago,28 Juli 2015
Penulis,












DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................i
Daftar Isi.........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang..................................................................................................................3
B.     Rumusan Masalah.............................................................................................................3
C.     Tujuan Penulisan.............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi aliran Asy’ariyah .................................................................................................4
·         Pengertian dan Latar belakang munculnya aliran Asy’ariyah................................4
B. Dalil yang digunakan oleh Asy’ariyah……………………....................................................4
C. Uraian tentang aliran Asy’ariyah.......................................................................................... 5
·         Paham Asy’ariyah………………………………………………………………..5
·         Perkembangan Aliran Asy’ariyah……………………………………………….5
·         Penyebab keluarnya aliran Asy’ariyah…………………………………………6
·         Ajaran pokok Asy’ariyah……………………………………………………….6
·         Tokoh-tokoh Asy’ariyah……………………………………………………….7
·         Karya-karya Asy’ariyah……………………………………………………….8
BAB III PENUTUP
   Kesimpulan..............................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................10

+









BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Beragam aliran teologi yang tumbuh subur memiliki historisasi yang cukup panjang, semuanya tidak terlepas dari para pendirinya dan latar belakang yang menyertai sampai pada para pengikutnya yang memilki loyalitas terhadap aliran tersebut.
Makalah ini akan membahas tentang aliran Asy’ariyah yang berkembang pada abad ke-4 dan ke-5/ke-10 dan ke-11. Aliran ini merupakan salah satu aliran yang muncul atas reaksi terhadap Muktazilah sebagai paham yang memprioritaskan akal sebagai landasan dalam beragama. Ketidaksepakatan terhadap doktrin-doktrin Mu’tazilah tersebut memunculkan aliran Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari. Doktrin-doktrin yang dikemukan beliau dan para pengikutnya merupakan penengah diantara aliran-aliran yang ada pada saat itu.
Pada perkembangan selanjutnya aliran ini banyak dianut oleh mayoritas umat Islam karena dianggap sebagai aliran Sunni yang mampu mewakili cara berpikir yang diharapkan umat Islam di tengah-tengah pergolakan hati akibat beberapa aliran yang datang lebih dulu.
B. Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian Aliran Asy’ariyah dan bagaimana latar belakangnya munculnya aliran Asy’ariyah?
2.    Apa saja dalil yang digunakan oleh aliran asy’ariyah dan apa saja ajaran pokok Asy’ariyah?
3.    Siapakah tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah,

C. Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui sejarah latar belakang munculnya aliran Asy’ariyah
2.      Mengetahui aliran Asy’ariyah dan perkembangan aliran Asy’ariyah
3.      Mengetahui tokoh-tokoh aliran Asy’ariyah
4       Mengetahui ajaran pokok dalam aliran Asy’ariyah.
5.      Mengetahui dalil yang digunakan oleh aliran Asy’ariyah dan karya-karya Asy’ariyah.



BAB II
PEMBAHASAN

Ø  DEFINISI ALIRAN ASY’ARIYAH
Pengertian dan Latar Belakang Munculnya Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah sebuah aliran yang menganut iktikad yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya. Aliran ini dinisbatkan kepada pendirinya yaitu Imam Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari, keturunan Abu Musa al-Asy’ari, seorang tahkim dalam peristiwa Perang Siffin dari pihak Ali. Dia lahir di kota Bashrah tahun 260 H (873 M) dan meninggal tahun 324 H (935 M) di Baghdad[1]. Pada awalnya ia berguru kepada seorang pendekar Mu’tazilah waktu itu bernama Abu Ali al-Jubai. Memang dahulunya al-Asy’ari ini merupakan penganut paham Mu’tazilah, namun terasa baginya sesuatu yang tidak cocok dengan Mu’tazilah yang pada akhirnya condong kepada ahli fiqih dan ahli hadits.
Setelah lama-lama berpikir dan merenungkan antara ajaran-ajaran Mu’tazilah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadits, maka ketika dia sudah berumur 40 tahun dia bersembunyi di dalam rumahnya selama 15 hari untuk memikirkan hal tersebut. Tepat pada hari jumat, dia berdiri di atas mimbar mesjid Bashrah dan secara resmi menyatakan keluar dari Mu’tazilah.
Kata al-Asy’ari tersebut adalah:
“Wahai masyarakat, barangsiapa mengenal aku, sungguh dia telah mengenalku. Barangsiapa yang tidak mengenalku maka aku mengenalnya sendiri. Aku adalah Fulan bin Fulan. Dahulu aku berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwasanya allah tidak melihat dengan mata, bahwasanya perbuatan-perbuatan yang jelek aku sendiri yang memperbuatnya. Aku bertaubat mencabut dan menolak paham-paham mu’tazilah dan keluar darinya”.
Adapun sebab terpenting Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah adalah karena adanya perpecahan yang dialami kaum muslimin yang bisa menghancurkan mereka sendiri, kalau seandainya tidak diakhiri. Dia mendambagakan kesatuan umat, dia sangat khawatir kalau al-Qur’an dan Hadits menjadi korban dari paham-paham Mu’tazilah yang dianggapnya semakin menyimpang dan menyesatkan masyarakat karena Mu’tazilah lebih mementingkan akal fikiran
Ø  DALIL ALIRAN ASY’ARIYAH
Al-Asy’ary tetap memegangi pendiriannya. Ia telah menetapkan adanya arah bagi Tuhan. Karena itu tidak ada kesulitan lagi untuk kemungkinan adanya ru’yat di akhirat, bukan di dunia. Untuk menguatkan pendapatnya ia mengutamakan dalil-dalil Syara’  dan dalil-dalil akal fikirannya :
1.      Dalil-dalil Syara’ : Dalil-dalil yang dikemukakan ialah dalil-dalil yang sebelumnya dipakai aliran Mu’tazilah untuk meniadakan ru’yat, yaitu ayat 22-23 Qiyamah.
2.             Dalil-dalil akal fikiran :
a.       Al-Ghazali, mengatakan bahwa sesuatu yang dilihat, tidak harus ada pada arah tertentu dari orang yang melihat.
b.      Al-Juwaini, mengemukakan dalil adanya ru’yat, sebagai berikut: Sesuatu yang dilihat mata, adakalanya karena segi bendanya saja. atau karena segi warnanya saja.

Ø  URAIAN ALIRAN ASY’ARIYAH
·         Paham Asy’ariyah
Paham kaum Asy’ariyah berlawanan dengan paham Mu’tazilah. golongan Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah itu mempunyai sifat diantaranya, mata, wajah, tangan serta bersemayam di singgasana. Namun semua ini dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya) Aliran Asy’arimengatakan juga bahwa Allah dapat dilihat di akhirat kelak dengan mata kepala. Asy’ari menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat dilihat adalah sesuatu yang mempunyai wujud. karena Allah mempunyai wujud ia dapat dilihat .
Ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan dalil Asy’ariyah untuk menyakinkan pendapatnya salah satunya adalah
     QS. Ar-Rum ayat 25
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالأرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الأرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ
Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). (QS. Ar-Rum ayat 25)
إ
·         Perkembangan Aliran Asy’ariyah
Aliran ini termasuk cepat berkembang dan mendapat dukungan luas dikalangan sebelum meninggalnya pendiri Aliran Asy’aiyah itu sendiri yaitu Imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari, yang wafat pada tahun 324 H/934 M. Sepeninggalnya Al-Asy’ari sendiri mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat karena pada akhirnya Asy’ariyah lebih condong kepada segi akal pikiran murni dari pada dalil nash.
·         Penyebab keluarnya Al-Asy’ari dari aliran Mu’tazillah
  1. Pengakuan Al-Asy’ari telah bertemu Rasulullah SAW sebanyak 3 kali. yakni pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 bulan Ramadhan. dalam mimpinya itu Rasulullah memperingatkannya agar meninggalkan paham Mu’tazillah .
  2. Al-Asy’ari merasa tidak puas terhadap konsepsi aliran Mu’tazilahdalam soal – soal perdebatan yang telah ditulis diatas.
  3. Karena kalau seandainya Al-Asy’ari tidak meninggalkan aliran Mu’tazillah maka akan terjadi perpecahan dikalangan kaum muslimin yang bisa melemahkan mereka
·         Ajaran-ajaran atau pokok-pokok pemikiran Asy’ariyah

1.      Sifat-sifat Tuhan. Menurut aliran ini, Tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an. Allah mengetahui dengan ‘ilm (ilmu), berkuasa dengan qudrah, hidup dengan hayah, berkehendak dengan iradah, berkata dengan kalam, mendengar dengan sama’, melihat dengan bashar, dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut adalah azali, qadim, dan berdiri di atas zat Tuhan. Sifat itu bukan zat Tuhan, bukan pula selain dari zat-Nya.[3]
2.      Al-Qur’an menurut mereka adalah qadim, bukan makhluk. Dasarnya adalah ayat an-Nahl ayat 40;
$yJ¯RÎ) $uZä9öqs% >äóÓy´Ï9 !#sŒÎ) çm»tR÷Šur& br& tAqà)¯R ¼çms9 `ä. ãbqä3uŠsù ÇÍÉÈ
Sesungguhnya perkataan kami terhadap sesuatu apabila kami menghendakinya, kami Hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", Maka jadilah ia.
3.      Melihat Tuhan bisa dengan mata kepala sendiri di akhirat. Dasarnya adalah firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat 22-23;
×nqã_ãr 7Í´tBöqtƒ îouŽÅÑ$¯R ÇËËÈ 4n<Î) $pkÍh5u ×otÏß$tR ÇËÌÈ
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka Melihat
4.      Perbuatan manusia diciptakan tuhan bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri. Dasarnya adalah surat as-Saffat ayat 96;
ª!$#ur öä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.
5.      Tuhan bertahta di ‘Arsy, mempunyai muka, tangan, mata, dan sebagainya. Tetapi tidak sama dengan yang ada pada makhluk.
6.      Keadilan Tuhan, Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun. Tuhan  tidak wajib memasukkan orang jahat ke neraka dan juga sebaliknya, namun semua itu hanya kehendak mutlak dari Tuhan karena Dia Maha Kuasa atas segala-galanya.
7.      Muslim yang berdosa besar menurut aliran ini apabila melakukan dosa besar dan meninggal dunia sebelum bertobat, tetap menjadi mukmin, tidak kafir, tidak pula berada antara keduanya sebagaimana pendapat Mu’tazilah.

Ø  Tokoh-tokoh Aliran Asy’ariyah

1. Al-Baqillani
Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh. dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

2. Al-Juwaini
Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.

Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:
  • Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  • Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  • Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  • Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan
3. Al-Ghazaly
Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll

Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.
4.As-Sanusy ( 833-895 H / 1427-1499 )
Nama lengkapnya Abu Abdillah bin Muhammad bin Yusuf. Dilahirkan di Tilasam, sebuah kota di Al-Jazair. Ia belajar pada ayahnya sendiri dan orang-orang lain terkemuka di negaarnya, kemudian ia melanjutkan pelajaranya di kota Al-Jazair pada seorang alim yang bernama Abd. Rahman ats-Tsa’laby.
Ulama Maghrib menganggap ia sebagai pembangun Islam, karena jasa dan karyanya yang banyak dalam lapangan kepercayaan (aqa’id) dan ketuhanan (ilmu Tauhid).

Ø  Karya – Karya Aliran Asy’Ariyah

1.             Maqalat al-Islamiyah (Pendapat-pendapat golongan-golongan Islam)
Kitab ini adalah kitab yang pertama kali dikarang tentang kepercayan-kepercayaan golongan Islam, dan juga merupakan sumber terpenting karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Kitab tersebut di bagi tiga. pertama berisi pendapat bermacam-macam golongan Islam. Kedua tentang pendirian ahli hadits dan sunnah dan bagian ketiga tentang bermacam-macam persoalan Ilmu Kalam. 

2.             Al-Ibanah’an Ushul Addiyanah (Keterangan tentang dasar-dasar agama)
Kitab ini berisi uraian tentang kepercayaan ahli Sunnah dan dimulainya dengan memuji Ahmad bin Hanbal dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Uraian-uraian kitab ini tidak tersusun rapi, meskipun menyangkut persoalan-persoalan yang penting dan banyak sekali.

3.             Alluma’ (sorotan)
Kitab ini dimaksudkan untuk membatah lawan-lawannya dalam beberapa persoalan Ilmu Kalam.








BAB III
KESIMPULAN
*      AL-ASY’ARIYAH
Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy`ariy. Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari, Al-Asy’ari menganut faham Mu’tazilah hanya sampai ia berusaha 40 tahun.
Sangat jelas di sini Al-Asy’ariyah lebih mengutamakan Wahyu. Dam Mu’tazilah lebih cenderung kepada Akal. Adapun pandangan-pandangan Asy’ariyah yang berbeda dengan Muktazilah, di antaranya ialah:
1.      Bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil kalau Tuhan mempunyai sifat, seperti yang melihat, yang mendengar, dan sebagainya, namun tidak dengan cara seperti yang ada pada makhluk. Artinya harus ditakwilkan lain.
2.      Al-Qur’an itu qadim, dan bukan ciptaan Allah, yang dahulunya tidak ada.
3.      Tuhan dapat dilihat kelak di akhirat, tidak berarti bahwa Allah itu adanya karena diciptakan.
4.      Perbuatan-perbuatan manusia bukan aktualisasi diri manusia, melainkan diciptakan oleh Tuhan.
5.      Keadilan Tuhan terletak pada keyakinan bahwa Tuhan berkuasa mutlak dan berkehendak mutlak. Apa pun yang dilakukan Allah adalah adil.
6.      Mengenai anthropomorfisme, yaitu memiliki atau melakukan sesuatu seperti yang dilakukan makhluk, jangan dibayangkan bagaimananya, melainkan tidak seperti apa pun.
7.      Menolak konsep tentang posisi tengah (manzilah bainal manzilataini), sebaba tidak mungkin pada diri seseorang tidak ada iman dan sekaligus tidak ada kafir. Harus dibedakan antara iman, kafir, dan perbuatan. Al Maturidiyah ,baik Samrkhand maupun Bukhara,sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa masih tetap sebagai mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya.Adapun dalam balasan yang diperolehnya kelak di akhirat bergantung pada apa yang dilakukannya di dunia.dalam Aliran AL-Maturidiyah,berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat.Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya.kekal di dalam neraka adalah balasan bagi orang yang berbuat dosa syirik.karena itu,perbuatan dosa besar (selain syirik)tidaklah menjadikan seseorang kafir atau murtad.Menurut Al Maturidi,Iman itu cukup dengan Tashdiq dan iqrar,sedangkan Amal adalah penyempurna iman.oleh karena itu,Amal tidak akan menambah atau mengurangi esensi Iman,kecuali hanya menambah atau mengurangi sifatnya saja.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rozak. Ilmu kalam. Pustaka setia; bandung. 2007
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta. 2006
Hanafi, Pengantar Teologi Islam, Pustaka Al-Husna, Jakarta. 2003
Salihun A. Nasir. Pengantar Ilmu Kalam. Raja Grafindo Persada; Jakarta. 1996
§  Imrah Muhammad, Tayyarat, Al-fikr Al-Islami, Dar Asy’suyuq, Beirut, 1911, Hal. 163
§  Badawi Abdurahman, Mazhab Al-Islamiyyin , Dar IIm Al-Malayin,1984, Hal . Hal . 104
§  Nasution Harun,Teologi Islam : Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI 497
§  Hanafi Ahmad, Penghantar Teologo Islam, Penerbit Al-Husna, Jakarta, 1992,
§  press, Jakarta, 1986 , Hal. 64
§  Anwar Rasihon, Ilmu Kalam, Setia Pustaka, Bandung , 2012, Hal . 121
§  Amin, Ahmad, Zhuhr al- Islam, jilid IV, Beirut: Dar al- Fikr,1969
§  Nasir, Sahilun, Pengantar Ilmu Kalam, Jakarta: CV. Rajawali, 1991
§  Asmuni, Yusran, Ilmu Tauhid, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996
§  Rozak, Abdul, Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007
§  Anwar, Rosihon, Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar